Tampilkan postingan dengan label Jurnalistik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jurnalistik. Tampilkan semua postingan
0 komentar

Ada Apa Dengan SGA?


Ada Apa Dengan SGA?
Oleh: Dian Hendar Pratiwi

Beberapa minggu yang lalu santer terdengar kabar penolakan penghargaan Bakrie Award oleh Seno Gumira Ajidarma. Seno Gumira Ajidarma yang kemudian akan saya singkat sebagai SGA ini merupakan salah satu penulis yang saya “pandang”. Dia seorang jurnalis yang piawai menulis cerpen, puisi dan esai. Memang belum banyak tulisannya yang saya baca. Tapi dari sedikit itu saja sudah menimbulkan kecintaan saya pada karakter tulisannya yang sarat dengan kritik sosial.
Bila selama ini saya mengetahui semacam tagline “Bila mulutmu dibungkam tajamkan penamu,” namun dari dia saya juga mengenal tagline “Ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara.” Tagline ini sebenarnya saya ambil dari judul esainya.
Lalu beberapa minggu lalu saya terusik dengan berita yang beredar. Saya membaca di beberapa media on-line ketika itu. Penasaran dengan apa yang terjadi, saya menelusuri blog pribadi SGA. Di sana secara resmi dia menyatakan menolak pemberian penghargaan itu dengan alasan penghargaan itu lebih layak diberikan pada orang lain.

Ini link pernyataan sikapnya:

Saya mengenal tulisan SGA begitu berani, lugas dan tegas. Namun kali ini saya tidak mendapatkan itu. Pernyataan sikap yang ditulis di blog pribadinya membuat saya berpikir apakah itu hanya alasan yang dibuat-buatnya saja?
Menilik ke belakang, beberapa jurnalis dan sastrawan juga pernah melakukan aksi serupa. Sitor Situmorang pada tahun 2010 pernah menolak penghargaan bidang sastra Bakrie Award. Beberapa tahun sebelumnya, Franz Magnis-Suseno, seorang yang dikenal sebagai pastor dan filsuf yang pernah menerbitkan beberapa buku juga menolak Bakrie Award 2007.
Tak hanya itu mantan Menteri Pendidikan Daoed Joesoef juga menolak anugerah Bakrie Award. Daoed Joesoef mendapat anugerah Bakrie Award bidang pemikiran sosial. Kemudian secara mengejutkan di tahun yang sama, 2010, budayawan yang juga tokoh pers Goenawan Mohamad  mengembalikan penghargaan Bakrie Award yang sebelumnya diterima Gunawan pada 2004.
Para tokoh tersebut menolak atau mengembalikan penghargaan Bakrie Award dengan alasan yang jelas. Mereka ini merasa Bakrie perlu menuntaskan kasus terkait PT. Lapindo. Seperti yang diungkapkan Romo Franz, beliau menolak karena keluarga Bakrie merupakan pemilik mayoritas PT Lapindo Brantas yang sedang bermasalah dengan semburan lumpur di Porong, Sidoarjo. (itoday.co.id)
Saya berharap SGA juga berstatement demikian. Setidaknya menjawab pertanyaan publik –seperti saya- yang bermunculan. Jangan-jangan SGA hanya melakukan aksi solidaritas saja, karena teman sastrawan  lainnya pernah melakukan hal yang serupa.

0 komentar

Belajar dari Kemenangan Regina “Idol”


Belajar dari Kemenangan Regina “Idol”
Oleh Dian Hendar Pratiwi

“Dan yang menjadi The Next Indonesian Idol, Indonesia memilih.. REGINA!!!”

Begitulah kira-kira yang diserukan Daniel Mananta, presenter acara ajang pencarian bakat menyanyi, Indonesian Idol. Gemuruh sontak meraung di setiap sudut bangku penonton. Pelukan selamat langsung disematkan Sean, kompetitornya.
Seperti yang telah kita ketahui bersama dari ajang tersebut kontestan asal Jakarta, Regina, dinobatkan menjadi Idola baru Indonesia. Kontestan tertua di Indonesian Idol 2012 ini mengaku telah mengikuti 6x ajang Indonesian Idol dan selalu gagal. Namun berkat kerja keras, tekad, kegigihan dan kemauannya untuk terus belajar mengantarkannya menjadi The Next Indonesian Idol. Tak tanggung-tanggung Regina tak pernah sekalipun berada di peringkat bottom three.
Dari tontonan ini akhirnya membuat saya berpikir bahwa lagi-lagi kita bicara soal kerja keras. Kerja keras dalam berproses. Regina tidak sekali jatuh. Namun berkali-kali. Dilangsir oleh beberapa media on-line, tahun ini juga menjadi tahun terakhir bagi usianya untuk mengikuti ajang tersebut. Jika dia jera dan tidak mengambil form pendaftarannya lagi waktu itu, dia tidak akan ada di posisi ini.
Mungkin kegagalannya kala itu bukan menjadi hal yang kemudian disesali bagi Regina. Dia terus belajar dan mengevaluasi diri. Secara tidak langsung kegagalan-kegagalan berikutnya semakin mendewasakannya. Dalam arti dewasa dalam bersikap dan menerima kenyataan. Regina tau masih ada yang salah dan perlu dibenahi untuk maju di Idol selanjutnya.
Menurut saya Regina bukan hanya orang yang beruntung tapi orang yang memang pantas menjadi juara. Dia mau belajar dengan segala kerja keras dan kegigihannya. Tekadnya kuat dan tujuannya jelas yaitu menjadi sempurna diajang ini. Bila dia akhirnya berhasil ini merupakan buah dari pembelajaran pasca kegagalannya yang lalu.
Hal-hal sepele macam inilah yang seharusnya bisa kita pelajari. Sekali lagi, kerja keras, tekad yang kuat, gigih, terus belajar dan mengevaluasi diri menjadi modal utama di setiap perjalanan. Perjalanan yang kemudian kita sebut itu proses. Proses yang kemudian mendewasakan kita untuk menerima dan mengerti arti dari sebuah kegagalan.

“Harus diakui bahwa manusia hidup butuh pengakuan. Tapi yang harus diyakini adalah proses untuk bisa hidup dan bertahan itu lebih penting dari sebuah pengakuan. (-dHp-)”

0 komentar

Menulislah Dari Hati


Menulislah dari hatimu..
Menulislah apa saja yang dapat kau lihat, dengar dan rasakan..
(dHp)

Bagi saya, menulis adalah cara termudah untuk menggambarkan pikiran, perasaan dan tanda tanya. Dulu, ketika SD saya memaknai menulis sebatas curhat di buku diary. Saya memang suka curhat. Tapi lebih dari itu, saya suka menuliskan curhatan saya di sebuah buku kecil dan selalu saya simpan dalam laci meja belajar saya. Saya ingat, hampir tiap hari minimal sekali saya menulis di buku diary itu. Saya biasa menulis buku diary saat malam tepat sebelum saya tidur. Saya menulis apa yang saya kerjakan seharian itu. Bagaimana guru-guru saya di sekolah, teman sepermainan, kadang kejengkelan saya dengan orang tua, dan kadang pula tentang pria yang pernah saya sukai di jaman itu. Yaa.. kelas 5 SD adalah pertama kalinya saya suka memperhatikan lawan jenis saya. Dia senior saya, Aprilian namanya. Sekarang dia dimana yaa?? Hehe..
Selain menulis saya juga suka membaca. Saya langganan majalah Bobo ketika itu. Saya lupa dulu Bobo terbit bulanan atau mingguan ya? Kalau nggak salah, terbit mingguan, tiap hari Kamis. Yang jelas saya ingat, saya selalu menunggu Mas Pengantar Majalah ini di depan pagar rumah. Lalu halaman pertama yang akan saya baca adalah Cerita Nirmala Dari Negeri Dongeng lalu Bona dan Rong-Rong. Dulu saya selalu terkesima dengan 2 kisah itu. Mungkin kalau sekarang saya bisa mendeskripsikan keduanya adalah kisah yang sederhana dengan visualisasi yang mudah terekam dalam benak anak-anak. Hhmmm..ada yang masih ingat dengan kisah-kisah mereka?
Sekarang, saya semakin tahu bahwa menulis tidak sebatas buku diary dan membaca tidak sebatas bacaan sederhana dengan visualisasi yang menarik. Rasa penasaran saya muncul ketika saya dihadapkan dengan sesuatu. Kadang lebih dari itu, berawal dari emosi yang ingin saya luapkan dengan cara saya, yaitu lewat tulisan
Mudahnya begini, saya menulis tentang segalanya yang saya mau tulis. Saya ingin menulis berita yaa saya cari data kemudian saya tulis. Saya ingin beropini yaa saya kumpulkan “emosi” saya dan fakta pendukungnya. Lalu bila saya ingin menulis dengan bahasa yang dipanjang-panjangkan dan bertele-tele hingga terkesan lebih indah dari berita serta kadang sifatnya sindiran yaa saya akan menulis cerpen. Dan bila ingin menulis bahasa indah tetapi malas bertele-tele yaa saya tulis puisi. Jadi saya tidak sependapat jika seorang penulis harus konsekuen dengan bidang tulisannya. Memang, tulisan jurnalistik jauh berbeda dengan sastra. Namun menurut saya keduanya hadir bukan untuk disekat namun untuk direkatkan. Karena tulisan jurnalistik dan sastra bermula dari bidang yang sama, yaitu literasi.
Beberapa hari yang lalu seorang teman saya bertanya, “Pernahkah mengalami kesulitan menulis?” Saya jawab; SERING. Kenapa? Meskipun menulis sudah saya lakukan sejak SD namun setiap kali menulis judul baru saya selalu memposisikan sebagai penulis baru. Penulis yang tidak tahu apa-apa tentang teknik menulis. Hingga kemudian memaksa saya untuk mencari data yang baru, mencari ide kreatif yang baru, analisis yang lebih baru, dan menciptakan hasil tulisan yang baru yang sebelumnya jelas belum pernah saya tulis. Semuanya baru. Jadi jangan takut merasa kesulitan menulis karena itu merupakan awal dari keharusan kita menemukan hal-hal yang baru.
Jadi menurut saya, lupakan segala tulisan yang lalu, jadilah yang baru disetiap judul tulisan yang baru. Gali semuanya. Anggap belum pernah menulis. Jangan pikirkan teknik menulis yang baik di awal. Singkirkan sejenak. Karena itu akan mematikan kreativitas. Tulis dulu semua apa yang bisa ditulis. Saat editing, adalah waktu yang tepat untuk memperhatikan segala yang tadi disingkirkan. Ini saya terapkan dalam menulis berita, beropini maupun menulis cerpen dan puisi.
Tidak usah takut kehilangan ide. Ide datang dengan sendirinya. Tangkap apa yang terlintas di benak kita. Tuangkan dalam kalimat. Bikin yang sederhana tapi bikin penasaran. Meski saya akui, itu tak mudah. Namun, itu akan menjadi mudah bila tahu kuncinya, yaitu membaca. Cari referensi dari berbagai bacaan.
Bacaan apapun bisa dibaca. Jangan membatasi diri. Seperti menulis, membaca juga saya lakukan semau saya. Saya ingin baca koran, majalah atau buku filsafat yaa saya baca. Kalau saya merasa bosan, saya letakkan. Begitu pula dengan buku kumpulan cerpen, puisi atau novel. Buku bacaan itu bukan sekedar dibaca tapi dimengerti kenapa penulis menulis buku semacam ini. Apa yang menarik di dalamnya lalu terapkan dalam tulisan. Jadi saya tidak pernah bisa menyelesaikan buku yang dipinjam dari persewaan buku. Lain lagi kalau komik, mungkin sehari bisa berkomik-komik.
Diakhir tulisan ini, saya akan menutupnya dengan pertanyaan teman saya yang lain. Dia bertanya, “Bagaimana mengawali sebuah tulisan?” Saya jawab, “BACALAH.” Kemudian dia bertanya kembali, “Lalu?” Saya jawab lagi, “BACALAH.” Teman saya mulai mengerutkan dahinya, “Lalu setelah membaca?” tanyanya. Saya jawab lagi, “BACALAH.” “Iya, setelah membaca?” tanyanya mulai kesal. “Menulislah.”

2 komentar

KAMPUS goes to KOMPAS

Berakhirnya ujian-ujian dan tugas-tugas akademik semester ini ditutup dengan acara jalan-jalan bareng LPM AGRICA ke Jakarta. Grand tema acara kita adalah "Kampus goes to Kompas". seperti judulnya udah kelihatan bahwa salah satu tujuan kita di Jakarta nanti adalah Kompas.

Oke. Perjalanan di mulai dari kampus pertanian UNSOED hari Selasa (17/1/2012) sekitar jam 18.00 WIB.


inilah foto suasana di dalam bus pertama kali kita mau berangkat.
yang depan putih2, yang belakang item2. kameramennya ga handal :(

0 komentar

Opini Untuk Mas Presiden

Pergeseran Paradigma Politik Kampus
Oleh: Dian Hendar Pratiwi

Politik kampus nampaknya mengalami pergeseran paradigma. Dunia kampus yang sejatinya menjadi central pembelajaran intelektualisme nyatanya kini omong kosong belaka. Demi meraup kekuasaan tertinggi kemahasiswaan, segala kecurangan dan kebohongan dihalalkan. Hal ini diimbangi dengan berbagai macam janji-janji yang terdengar justru menjijikan. Mereka tidak menyadari, apa yang mereka umbar adalah serangkaian masalah-masalah baru yang nantinya membayangi.
Cukup bermodalkan lihai memanajemen isu, para mahasiswa ini beramai-ramai terjun ke kancah politik demi kekuasaan dan kemenangan golongan. Timbul istilah black campaign atau kampanye hitam. Kampanye politik yang sangat rapi dan lihai dilakukan oleh para tim sukses calon. Saling menjatuhkan lawan politik dengan menjelek-jelekkan bahkan memfitnah demi membunuh citra lawan politik. Inilah tren politik yang terus berkembang dengan pesat.
Sebenarnya, berpolitik adalah hal yang sangat manusiawi. Namun, dalam politik selalu ada ”aturan main” dan etika yang harus diindahkan tanpa bertolak belakang dengan tujuan yang diharapkan. Dalam frame Mahatma Ghandi, seorang tokoh revolusioner India, setiap tujuan yang ingin dicapai harus selaras dan seimbang dengan metode dan tata cara yang dilakukan. Mustahil hasil dari tujuan dinilai baik jika metode yang digunakan adalah dengan jalan yang buruk. Begitulah kiranya yang dimaksud dengan politik yang ”bersih”. Sebagaimana pernah diungkapkan Plato bahwa politik adalah seni mempengaruhi orang lain dengan kecerdikan dan kecerdasan, Bukan dengan keculasan dan kebohongan serta cara-cara keji yang menghalalkan segala macam aturan demi meraih keinginan.

0 komentar

Sekilas Tentang Flash Fiction

FF itu apasih? *buat yang belum tau :)
Oleh  : Nessa Kartika

Nama lainnya: flash fiction, mencakup sudden fiction, microfiction, micro-story, postcard fiction, dan short short story. Jumlah katalah yang membedakan istilah-istilah itu.
Sejarah flash fiction berakar pada Aesop's Fables, dan praktisinya antara lain Anton Chekov, Franz Kafka, Kurt Vonnegut,Jr.
Ernest Hemingway bahkan memelopori cerpen 6 kata saja.
Flash fiction adalah cerpen sangat singkat yang menghunjam telak ke dalam pikiran pembaca dan langsung menghibur. Jumlah kata masih diperdebatkan. Sebagian berpendapat 1.000 kata masih disebut FF. Yang lain menuntut di bawah 500, bahkan ada yang hanya 55. Tapi yang paling populer adalah 100 kata, dengan atau tanpa mencakup judul dan nama penulis.

0 komentar

Flas Fiction Buat Mama :)

KAKTUS
 
22 Desember, bertepatan dengan pengukuhan gelar Doktorku, kau berulang tahun. Sosok yang tak banyak kata tapi memberi contoh nyata. Guru terbaik sepanjang masa. Masih membayang jelas, dalam ingatan, saat sakitku menggila, berlarian engkau menggendongku ke rumah sakit terdekat untuk memastikan anakmu ini mendapatkan perawatan yang tepat. Di lain kesempatan, kala kita berjalan beriringan, kau korbankan dirimu untuk melindungiku dari derasnya hujan. Ku ingat kau pernah berpesan, hidup layaknya kaktus. Bertahan sendiri di padang pasir tanpa mengeluh meski habitatnya gersang. Indah bunganya dinikmati semua orang namun dengan durinya tak sembarang orang menyentuhnya. “Bertahan pada situasi sulit akan menguatkanmu,” ungkapan ketegarannya.




"Selamat Hari Ibu, Maa..
I Love U.."

0 komentar

Opini Proyek Grup TERAS---Teras Rumah Kami

Teras Rumah Kami 

oleh Dian Hendar Pratiwi

Dewasa ini fenomena jejaring sosial tak hanya mewabah di kalangan kawula muda. Namun orang-orang yang notabenenya tak lagi muda mendadak “memudakan” diri dengan mulai menjamah jejaring sosial tersebut. Jenisnya pun beragam. Sebut saja Friendster yang kemunculannya disambut antusias oleh jagat raya. Kemudian muncul Facebook dan twitter dimana keduanya telah dapat dikategorikan sebagai jejaring sosial dijadikan andalan umat manusia hampir di seluruh negeri.
Facebook. Siapa yang tak mengenal media jejaring sosial yang satu ini. Penemunya, Mark Zuckerberg bahkan termasuk dalam 230 orang yang dianggap berpengaruh bagi dunia sebagai Young Global Leaders 2009. Media jejaring sosial yang pada mulanya saya yakini hanya akan menjadi trendsetter ternyata berkembang begitu pesat. Hingga beberapa kali terdengar kabar akan ditutup dengan alasan membludaknya member. Mengusung tujuan yang mulia yakni memudahkan orang berinteraksi, menjadikan facebook sebagai media yang digandrungi berbagai kalangan baik dari kalangan umur penggunanya, profesi (pebisnis online khusunya), kesamaan hobi atau minat dan bakat (fotografi dan menulis misalnya), undangan pagelaran suatu event bahkan undangan sunatan kepala desapun bisa diunggah melalui facebook.
Dengan adanya bermacam kalangan yang berkumpul di sana “Grup Hobi” sepertinya menjadi wadah yang paling banyak dilirik untuk didirikan. Mengapa saya katakan grup hobi? Karena grup-grup ini memang terbentuk atas dasar kemiripan atau kesamaan minat dan bakat seseorang. Fotografi misalnya, grup didirikan oleh salah seorang yang berhobi mengabadikan gambar dalam bentuk jepretan kamera yang kemudian menambahkan teman-teman facebook lainnya untuk bergabung di dalamnya. Ini merupakan cara belajar fotografi yang baru, fresh, dan cepat. Karena dengan hadirnya grup yang mewadahi orang-orang yang berhobi sama akan memudahkan kita untuk belajar. Sederhana pula caranya hanya dengan mengunggah karya kita untuk selanjutnya di kritisi bersama anggota grup lainnya.
Ada lagi grup penulisan. Seperti grup penulisan Teras Berbagi Inspirasi dan Menulis yang saya naungi. Sekilas grup ini tidak jauh berbeda dengan grup-grup penulisan sastra lainnya. Mengedepankan saling berbagi inspirasi agar anggotanya mampu mencurahkan segalanya bersama-sama agar lebih memakani hidup. Ini juga merupakan cara yang cukup mudah dan cepat dalam belajar menulis. Karena di sana kita dapat memamerkan hasil tulisan kita yang kemudian akan dibedah pada jam-jam tertentu. Ini saat yang paling saya tunggu karena disaat inilah proses belajar kita sebenarnya dimulai. Learning by doing.
Lalu yang saya sayangkan justru pada adminnya karena beberapa kali saya perhatikan banyak anggota baru yang sebenarnya tidak baru. Hanya luput dari perhatian anggota Teras bahkan adminnya sendiri. Terbukti masih adanya kesalahpahaman anggota mengenai peraturan rubrik Teras. Seharusnya ketika admin menambahkan teman pemberian ucapan selamat datang dan penjelasan mengenai aturan Teras terutama rubric Teras dapat lansung disampaikan. Hal ini dapat dilakukan by inbox facebook. Dengan demikian akan menekan kemungkinan terjadinya salah paham atau ketidaktahuan anggota mengenai aturan karena memang nggak eksis
Tidak sempat? Menurut saya itu alasan yang klasik. Apabila admin menyadari semakin bertambahnya member dan dirinya mulai merasa kewalahan seharusnya admin bisa melakukan perekrutan orang kepercayaan. Antara tiga sampai empat orang. Dimana orang kepercayaan ini memiliki tanggung jawab yang sama yaitu berhak menyeleksi atau memasukkan dan mengeluarkan anggotanya yang bermasalah, mengupdate informasi yang ada di Teras, menjawab pertanyaan setiap anggota (khususnya anggota baru), mengingtkan PJ masing-masing rubrik serta memberi informasi mengenai info lomba atau buku yang terbit kepada anggota. Dengan catatan admin utamalah yang memegang kendalinya.
Orang-orang kepercayaan admin bisa diseleksi oleh admin sendiri dengan berbagai macam tingkat penilaian. Bisa dari segi keaktifan dia di grup Teras, ramah terhadap orang baru dan lama, dapat standby untuk mengawasi apa saja yang terjadi di Teras, dan orang yang bertanggung jawab alias tidak terlalu sibuk dengan urusan di luar grup Teras. Sebaiknya pemilihan ini dilaksanakan secara privasi dan tidak perlu dipublikasikan agar tidak menimbulkan kecemburuan sosial.
Bagi saya grup Teras sama halnya dengan lingkungan organisasi yang saya geluti di dunia nyata. Tempat berkumpulnya orang yang berhobi sama, yakni menulis. Hanya bedanya ini ada di dunia maya bertemu dengan sahabat-sahabat jauh. Seperti kata mama saya, “Semakin banyak memiliki teman jauh semakin banyak pula pengalamannya.” Demikian prinsip yang saya pegang di grup ini
 Memang disini tempat berkumpulnya sahabat yang memiliki hobi sama dari berbagai macam suku, agama, umur, profesi, sifat dan perilaku, serta nasib yang berbeda. Yaa..karena ada yang sudah menerbitkan buku dan ada pula yang belum berkesempatan. Ada yang sudah menjadikan menulis sebagai profesi dan ada yang masih menjadikannya sebatas hobi. Namun itu tak menjadi soal, toh sebelum menjadikan menulis sebagai profesi pasti mereka mengawaliya dengan menjadikannya sebagai hobi bukan?
Untuk memajukan grup Teras tidak hanya di dapat karena peran admin, PJ rubric Teras, apalagi orang-orang yang sudah malang melintang di dunia penulisan. Sama sekali tidak. Karena justru grup ini dibilang sukses dan maju dapat dilihat dari seberapa banyak anggotanya dan apakah mereka memilih bertahan atau check out. Jadi anggota-anggota barulah yang secara tidak langsung memberi point untuk setiap kemajuan grup. Gambaran sederhananya; bertambahnya satu anggota sama dengan bertambahnya satu point kesuksesan. Yang perlu digarisbawahi dalam hal ini adalah semua anggota yang terdaftar baik yang saat ini menjadi anggota lama ataupun baru semuanya pernah mendapat predikat sebagai anggota baru. Jadi semua anggota sebenarnya telah menyumbangkan satu point kesuksesan. Tinggal bagaimana kita mempertahankan dan lebih memajukannya lagi. Inilah pegangan awal yang harus disadari setiap anggota; lama maupun baru.
Kemudian hal sepele namun yang seharusnya mendasar kita lakukan adalah dengan saling mengakrabkan diri antar anggota. Ini dapat terlaksana apabila ada timbal balik antara anggota lama dan anggota baru. Jadi anggota lama juga jangan hanya berbincang dan menanggapi obrolan dari sesama anggota lama saja begitupun sebaliknya para anggota baru juga jangan sungkan untuk ikut bergabung dalam rubric ataupun sekedar bincang-bincang dengan anggota lain. Sering kali anggota baru merasa tidak nyaman dalam grup karena dirinya merasa selalu dianggap “baru” meskipun sudah bergabung berbulan-bulan lalu sebagai anggota. Kemudian anggota lama terkesan menyalahkan karena si anak baru ini tidak pernah atau jarang kelihatan di Teras. Seperti bahasa gaulnya, “nggak eksis”. Lalu yang anggota baru beranggapan “anggota lamanya nggak ramah, cuman ngobrol sama yang udah kenal.” Pernyataan seperti ini sangat disayangkan, mengingat setiap orang memiliki kesibukan sendiri-sendiri. Sangat mungkin apabila mereka yang selalu dibilang baru padahal lama memang jarang online facebook. Jadi hanya pada kesempatan-kesempatan tertentu mereka bisa meluangkan waktu. Apabila ini terjadi dikhawatirkan mereka akan merasa tidak nyaman tinggal di Teras.
Terakhir, yang terpenting adalah mengikat mereka yang tergabung dalam grup ini sebagai keluarga. Bukan sekedar bergabung sebagai guru dan murid seperti di tempat-tempat bimbingan belajar. Kegiatan kopdar ataupun event-event yang digelar bisa dijadikan bumbu dalam grup ini namun menciptakan rasa nyaman itu tetap nomer satu. Kita akan tetap belajar menulis di sini namun dengan rasa kekeluargaan. Tanamkan pada diri kita masing-masing bahwa kita ini keluarga. Bukan hanya Terasku, Terasnya, Teras mereka, namun Teras kami. Yaa..Teras rumah keluarga kami.


di post di Grup Teras Berbagi Inspirasi dan Menulis
http://www.facebook.com/groups/214874541867691/docs/
(Alhamdulillah MENANG)