0 komentar

Flas Fiction Buat Mama :)

KAKTUS
 
22 Desember, bertepatan dengan pengukuhan gelar Doktorku, kau berulang tahun. Sosok yang tak banyak kata tapi memberi contoh nyata. Guru terbaik sepanjang masa. Masih membayang jelas, dalam ingatan, saat sakitku menggila, berlarian engkau menggendongku ke rumah sakit terdekat untuk memastikan anakmu ini mendapatkan perawatan yang tepat. Di lain kesempatan, kala kita berjalan beriringan, kau korbankan dirimu untuk melindungiku dari derasnya hujan. Ku ingat kau pernah berpesan, hidup layaknya kaktus. Bertahan sendiri di padang pasir tanpa mengeluh meski habitatnya gersang. Indah bunganya dinikmati semua orang namun dengan durinya tak sembarang orang menyentuhnya. “Bertahan pada situasi sulit akan menguatkanmu,” ungkapan ketegarannya.




"Selamat Hari Ibu, Maa..
I Love U.."

0 komentar

Love You, Mom

Persembahan Cinta Untuk Para Ibu di Dunia

Untuk mama tersayang, yang selalu percaya bahwa bakat itu ada..
Selamat Hari Ibu (221211)

Malam larut semakin pekat. Bulan tidak purnama. Tidak juga lenyap. Separuh saja. Ada lenguhan panjang bidadari. Menghembus perlahan menjejal jendela kamarku. Aku masih mematung. Menyandar pada salah satu tembok. Mataku berkaca memandang jauh. Menyelami bait demi bait tulisan yang terhampar di depanku.

(Baca juga link ini yaa temen2. Ini tulisan yang aku maksud)

Itu bukan tulisan pertamaku. Kesekian. Bukan pula pertama kalinya aku ikut lomba menulis fiksi atau true story. Namun kali ini berbeda. Tulisan yang menggambarkan rasa banggaku pada Papa. My hero from my frame. Begitulah aku menyebut asal ide tulisan ini.
Kali ini aku tak yakin. Dicari 3 naskah terbaik dari 70 lebih naskah. Salah satu dewan jurinya Bamby Cahyadi. Penulis senior yang kukagumi. Dia memiliki jam terbang tinggi, tulisannya beberapa kali mangkir di media nasional sekelas Kompas, Jurnal, Media Indonesia dll. pernah membuat buku pula.

“Aku nggak jadi kirim,” ujarku di telepon.
“Kenapa?” tanyanya parau.
“Nggak pede. Kayaknya juga nggak layak baca.”
“Jangan berpikir begitu. Dengan kamu berani mengirim berarti kamu sudah menang mengalahkan rasa nggak PD mu.”
“Nggak taulah nanti. Mungkin mau dibenerin dulu.”
“Katanya mau jadi penulis?”
“Boleh?”
“Bolehlah. Papanya kan wartawan, penulis juga. Mama juga dulu sekolah komunikasi karena pengen jadi wartawan tapi nggak kesampaian.”
“Terus?”
“Bakat itu pasti ada. Factor keturunan juga sangat mungkin. Jadi selama tidak mengganggu kuliah, lakukan yang menurut kamu baik untuk nantinya.”


Ini foto mama sama tante aku pas di Tawangmangu. Dia yang pake baju warna oink pake tas coklat. Aku cari foto mama yang sendirian di laptop nggak ada ternyata. hehehheee..maap yaa ma..



ciiieee...si mama mendadak terkenal ni :)



Mama supporter terhebat dalam hidupku :)
Love u..

0 komentar

Pagi yang Melankolis

Selamat pagi!
fuuaaaahh..bangun tidur langsung online ni ceritanya. masih kaos tidur yang bolong di ketek sama celana pendek langsung ane  buka facebook, nggak sengaja ada nama mantan muncul di home. Langsung deh di klik. Hhhhmmmm..masih sama pacarnya aja tu orang. Langgeng bener.
Dengan suasana hati yang mendadak jadi melow. Terciptalah tulisan berikut..
Ini bukan tulisan puji-pujian. Tapi sedang mengenang mantan dengan perasaan haru. Jadi tolong, please banget, bacanya sambil terharu yaa.... pliiiiisssssss....


Rindu itu..

Rindu itu..menggelikan
diawali dari ngecek timeline kamu
mencari tahu dengan siapa saja kamu komunikasi


Rindu itu..lucu
diawali dengan mengingat kenangan
yang pernah dilalui bersama


Rindu itu..menerjemahkan angin yang berhembus sebagai isyarat cinta
berharap kau merasakan hal yang sama


Rindu itu..mengenang tempat-tempat yang pernah kita datangi berdua
Rindu itu..memutar semua lagu yang ada hubungannya sama kamu


Rindu itu..KAMU SAJA.
CUKUP.

Dan inilah salah satu lagu yang jleeebb banget. Ten2five-You

0 komentar

For You..

Kesetiaan adalah bertahan dengan ikhlas. Seperti saat kita berteduh kala hujan turun dan menunggu hingga tetesnya mereda. Seperti pula saat kita bermain pasir di pantai dan menunggu ombak menggulung membasahi dua mata kaki kita. Lalu kita tertawa di bawah lengkung senja.
Kesetiaan itu seperti saat ini. Seperti saat aku masih menjaga kerinduanku dan kembali memutar lagu-lagu nostalgia kita berdua. Memendam hal terindah dan mengindahkan hal terpahit.








Setia adalah alasan sederhanaku untuk tetap di sini. Untuk mencintaimu.

0 komentar

Seandainya Tuhan Jatuh Cinta

Seandainya Tuhan Jatuh Cinta
oleh Dian Hendar Pratiwi

Mencintaimu adalah hal terindah..




24 jam.
Seharusnya aku pahami bahwa waktu hanyalah sekat.
Seperti kata yang disekat spasi. Seperti kalimat yang disekat titik. Seperti bunga ikat yang butuh sekat untuk bisa bernafas.
Begitupun cinta. Cinta butuh sekat.

Seharusnya aku pahami.
Bahwa pagi, siang, sore dan malam adalah bagian dari waktu yang menyekat kita.

0 komentar

Cerpen---Sebuah Surat Cinta

Sebuah Surat Cinta
Oleh Dian Hendar Pratiwi

Malu aku malu pada semut merah yang berbaris di dinding. Menatap curiga. Seakan penuh tanya. Sedang apa di sini? Menanti pacar jawabku.

Tidak ada yang istimewa dari bangunan ini. Sebuah kantin sekolah biasa dengan luas dua kali luas ruang kelas pada umumnya. Dua buah pintu yang kokoh menjulang berdiri di kedua sudut bangunan. Cahaya memaksa masuk merembes lewat celah-celah teralis jendela yang mulai nampak menua termakan usia. Debu berhamburan mengapung di udara samar-samar. Sementara angin mulai mengisik. Tak ada musik. Namun berisik. Kumandang dari lonceng yang diderukan pita suara setiap orang yang berkerumun di sini.
Aku duduk di sudut. Sengaja menyendiri padahal tak sendiri. Resah dan gelisah menunggu. Di meja sebelahku nampak riuh para siswa perempuan membicarakan guru bahasa Indonesia kami yang baru---yang muda dan yang tampan. Di sebelahnya lagi ada seorang siswa laki-laki kurus berkacamata duduk sendiri, sama denganku, sedang mengerjakan sesuatu entah apa. Di meja depanku ada seorang gadis dengan rambut ikal sebahu. Dia tidak bisa diam. Dia seperti duduk di atas kursi panas. Berulang kali merubah letak pantatnya. Berulang kali memeriksa jam di tangannya. Juga berulang kali melirik di handphonenya yang tidak kunjung berbunyi. Dan berulang kali pula matanya awas memandang berkeliling. Apakah dia sedang menunggu seseorang? Temannya? Atau kekasihnya? Seperti aku yang sedang menunggu seseorang. Bukan teman. Bukan pula kekasih. Hanya seseorang yang termanis dan terlucu.

0 komentar

Suatu Hari Ada Kau dan Aku

Suatu Hari Ada Kau dan Aku
Oleh Dian Hendar Pratiwi

“Jika suatu saat nanti pohon yang kutanam ini tumbuh subur dengan hasil buahnya yang bergelantungan maka kupastikan hari itu kau akan pulang dengan title sarjana. Karena kata penjualnya, waktu panen kelengkeng ini selama 4 tahun. Tepat saat pertama kali kau menjadi siswa yang maha,” ujarnya.

Kami suka menghabiskan Minggu di teras rumah. Mendengarkan musik dan bernyanyi kecil bersama. Kami juga sering sambil membaca majalah-majalah lawas.
“Aaahh..aku bosan. Ini udah baca!” seruku.
“Apa sudah kamu baca semuanya?” tanyanya.
Aku menggeleng dan dia selalu punya cara untuk mencairkan suasana bosan yang baru saja kuciptakan. Kemudian kami beralih memperhatikan pakaian para model dimajalah yang kami baca. Mendesainnya ulang ala kami. Hingga sering kali terwujudlah coretan-coretan desain baju ala kami tadi menjadi baju yang aku kenakan atau ia kenakan.
Matahari mulai menggeliat saat kami akhirnya memutuskan untuk makan siang di teras rumah. Memang terbesit perasaan nggak sopan. Hanya saja kami ingin santai di Minggu siang ini. Berdua. Hingga malam menjelang saatnya kami berbagi cerita tentang kehidupan kami. Tentang persoalan kami.